Sembilan buku yang dipinjam oleh Sintia dari sekolah harus dikembalikan. Hari ini terakhir pengembalian. Kalau terlambat bisa didenda. "Sampai sekolahlangsung kembalikan," pesan ibu saat Sintia berpamitan. Tiba di sekolah, Sintia bertemu Janah, Nuli, dan Keket. Sintia langsung bermain bersama mereka di luar kelas. Sintia lupa pesan ibunya. Beberapa saat setelah bermain, Janah mengajak Sintia ke kantin. Di tengah perjalanan, Sintia teringat buku yang harus dikembalikan. Sintia mengajak Janah kembali ke kelas. Dengan cepat Sintia mengambil buku-buku dari ta dan menuju ke perpustakaan. Sampai di perpustakaan, Sintia meletakkan buku-buku di atas meja Bu Warih. "Buku PKn-nya tidak ada," kata Bu Warih sambil memeriksa buku-buku itu. Sintia kaget. "Sudah kubawa semua, Bu," Sintia kembali ke dalam kelas untuk memeriksa tasnya. Buku itu tak ditemukan juga. Teman-temannya pun tak ada yang tahu. Keringat dingin mulai mengalir. Pulang sekolah, Sintia mencari buku PKn-nya. Namun, ia tidak menemukan juga. Sintia yakin semua buku sudah dimasukkan ke dalam tasnya. Mengapa bisa tidak ada? "Kamu tidak segera mengembalikannya tadi?” tanya Ibu. Mendengar pertanyaan ibu, Sintia hanya bisa tertunduk. Keesokan hari, ketika sekolah sudah sepi dan jemputan Sintia belum datang, terdengar seseorang memanggilnya. "Sin, Sintia," Sintia menoleh, ternyata langit yang memanggilnya. Langit itu teman sekelas Sintia. Anak laki-laki yang pendiam dan jarang bergaul. Sintia pun tidak pernah menghiraukannya.
"maaf, ini bukumu. Aku yang mengambilnya karena bukuku hilang. Ternyata bukuku sudah ketemu, dan sudah kukembalikan kepada Bu Warih. Maafkan aku, ya!"
Sintia menghela napas. Tak tahu harus marah atau lega. "Aku memaafkanmu, tapi jangan diulangi. Simpan saja, aku sudah beli gantinya."
Mobil jemputan Sintia datang. Ia meninggalkan Langit yang terpaku. Sintia termenung. Meski semua kesal, tapi kemudian muncul rasa kagum. Anak itu mau mengakui kesalahan dan minta maaf.
Maksud pernyataan yang dicetak tebal (Mendengar pernyataan ibunya, Sintia hanya bisa tertunduk.) pada cerita tersebut adalah...
A. Sintia sedih karena buku yang sudah disiapkan untuk dikembalikan hilang.
B. Sintia kecewa karena tidak bisa menjaga buku pinjamannya dengan baik
C. Sintia merasa bersalah karena tidak mematuhi nasihat Ibunya.
D. Sintia kesal karena buku yang akan dikembalikan ke perpustakaan ada yang hilang.
plisss di jawab ya....
"maaf, ini bukumu. Aku yang mengambilnya karena bukuku hilang. Ternyata bukuku sudah ketemu, dan sudah kukembalikan kepada Bu Warih. Maafkan aku, ya!"
Sintia menghela napas. Tak tahu harus marah atau lega. "Aku memaafkanmu, tapi jangan diulangi. Simpan saja, aku sudah beli gantinya."
Mobil jemputan Sintia datang. Ia meninggalkan Langit yang terpaku. Sintia termenung. Meski semua kesal, tapi kemudian muncul rasa kagum. Anak itu mau mengakui kesalahan dan minta maaf.
Maksud pernyataan yang dicetak tebal (Mendengar pernyataan ibunya, Sintia hanya bisa tertunduk.) pada cerita tersebut adalah...
A. Sintia sedih karena buku yang sudah disiapkan untuk dikembalikan hilang.
B. Sintia kecewa karena tidak bisa menjaga buku pinjamannya dengan baik
C. Sintia merasa bersalah karena tidak mematuhi nasihat Ibunya.
D. Sintia kesal karena buku yang akan dikembalikan ke perpustakaan ada yang hilang.
plisss di jawab ya....
Jawaban:
C. Sintia merasa bersalah karena tidak mematuhi nasihat Ibunya.
Penjelasan:
Kan gini nih, ibunya nanya ke Sintia "Kamu tidak segera mengembalikannya tadi?” Ya menurutku sih karena pertanyaan itu, Sintia merasa bersalah, kan gak dengerin kata" ibunya. Makanya, Sintia nundukin kepalanya.
Semoga membantu ya, maaf kalau salah. Untuk menjelaskannya itu menurut sudut pandangku.
[answer.2.content]